Ajari Anakmu Berbagi (Kursi)

Dua ribu empat belas udah mo abis dan blog ini belum update? Ckckck...

Saya mau cerita dikit tentang sebuah pelajaran manis dari seorang ibu yang pernah saya beri kursi di gerwani (gerbong khusus wanita, jangan salah sangka dulu deh plis ah!). Si ibu muda memboyong dua anaknya, satu balita banget dan satu lagi cowok dengan taksiran usia sekolah dasar. Itung sendiri deh berapa, saya nggak sempat tanya apalagi minta fotokopi akte kelahirannya.

Syahdan, setelah mendapatkan kursi lungsuran dari saya nggak lama kemudian sebelah si ibu kosong. Dengan mata berbinar si ibu menawarkan kursi tersebut buat saya. Tadinya sih saya mau memberikan kursi itu buat anak cowoknya yang masih usia SD itu, tapi si ibu menolak. Katanya lugas, "biar aja dia kan lelaki harus kuat dan belajar menghargai orang lain".

Maka sepanjang perjalanan si lelaki kecil pun berdiri.

Saya kemudian teringat pemandangan lumrah yang memancing pertanyaan: berapa usia maksimum "anak lelaki" yang boleh ikut ibunya di gerwani? Nggak sedikit bocah-bocah bongsor dengan ukuran tubuh lebih besar dari saya (ya ini sih sayanya aja yang kelewatan ceking!) menikmati kursi di ruang yang dikhususkan buat kaum Hawa itu sambil bergelendot manja di samping sang bunda. Padahal, saya yakin bocah-bocah bongsor itu masih kuat berdiri tegak sampai pemberhentian terakhir di ujung. 

Atau mungkiin cara para bunda memanjakan anaknya ini yang bikin banyak anak muda jadi nggak empati untuk gantian duduk? 

Entahlah... 

T3X Teman Baru Saya Di Kereta

Murah bukan berarti murahan...

Itulah kesan pertama yang ditonjolkan Advan lewat tablet teranyarnya dari seri T3X. Dengan balutan kelir putih di sekujur tubuh plus aksen silver di punggung (tersedia juga versi gold champagne), T3X memang terlihat cantik meski berbodi plastik. Mengimbangi tampilan luar, T3X juga dipersenjatai spesifikasi teknis yang cukup menjanjikan seperti prosesor Quadcore 1,5Hz dan layar full HD yang kinclong kayak Chelsea Islan.

Berdimensi 260x170x8 mm dengan ukuran layar diagonal 8,9 inch, bungsu keluarga vandroid seberat 360gr ini cukup nyaman buat dibawa jalan seorang commuter yang nyambi ber-social media. Kapasitas baterai Li-ion 6000mAH yang dimiliki, memungkinkan T3X bertahan seharian meski dipakai onlne (e-mail, browsing, socmed dan sedikit nge-game hehehehe). Cukup OK lah mengingat kondisi fakir sinyal yang kerap menghisap energi ituh.

Digadang-gadang mampu mengakomodir kebutuhan para gamers, buat saya T3X sudah memuaskan sebagai partner kerja. Mengelola beberapa akun social media dengan berbagai platform memang bukan hal gampang kalau nggak dilengkapi amunisi berupa gadget yang mumpuni. Kapasitas ruang simpan yang lega tentu aja jadi kebutuhan utama mengingat banyaknya aplikasi yang dibenamkan.

Sejauh ini terkait pekerjaan, ada lima aplikasi twitter dan dua aplikasi facebook yang berjalan bersamaan. So far baik-baik aja, dibanding piranti sebelumnya yang ternyata lebih banyak beralih fungsi sebagai modem wifi (dan belakangan mulai mengisyaratkan diri minta dipensiunkan... hiks). Ini belum termasuk aplikasi social media pribadi seperti instagram, path, pinterest, dan messenger (eh udah ada BBM pre-installed lho di dalamnya!) yang juga menyedot memori.  Untuk games, karena saya pribadi bukan gamer maka sementara ini cuma satu yang saya selipkan buat hiburan. Aplikasi pendukung profesi seperti pengolah dokumen justru lebih penting, karenanya  gak lupa untuk disisipkan. Tinggal nunggu Office365 versi android nih.

Sebagai commuter user, keberadaan multimedia jelas penting buat membunuh sepi *tsaaaaah* pas nunggu atau pun dalam perjalanan. Keberadaan FM Radio di T3X ini juga helpful banget. Meski, sayangnya hanya memuat lima stasiun radio untuk masuk list favorit. Seharusnya ini nggak masalah sih kalau koneksi internet sepanjang jalan (kenangan) stabil. Kan bisa dengerin via streaming gitu...

Oh ya, ini postingan pertama dari aplikasi "blogger" di T3X saya lho. 

Kerja Di Kereta

Sebagai pengguna CommuterLine, keputusan Microsoft membenamkan keluarga Office365 di iPad tentu saja sungguh menggembirakan.  Yeah, sejak mengakrabkan diri dengan skripsi mau nggak mau Office menjadi salah satu aplikasi wajib yang ada di komputer sih. Apalagi sekarang, sebagai orang kantoran anak ahensi yang nggak jarang harus kerja remote termasuk di dalam CommuterLine XD Office for iPad bisa diunduh gratis, tapi katanya sih cuma buat preview. 

Pengalaman saya, ketika akhirnya memutuskan menjadi salah satu dari dua juta pengunduh Office for iPad di pekan pertamanya, ternyata saya bisa dapat full access untuk mengutak-atik aplikasi ini. Lho? Kok bisa?

Jadi gini, usai melakukan instalasi di iPad lewat iTunes hal pertama yang musti dilakukan adalah login menggunakan akun Microsoft kita dan voila! Semua yang biasa saya lakukan di netbook dengan mudahnya bisa dikerjakan di iPad \o/ Senang!

Office for iPad bisa ngapain aja? Dengan kelengkapan standar berupa Word Doc, Excel, dan PowerPoint rasanya cukuplah buat saya.
 
Sistem cloud computing yang diterapkan di Office365 ini juga mempermudah para pekerja remote dalam menyelesaikan semua urusan terkait pekerjaannya. Saya cukup mengakses Office365 via OneDrive memanfaatkan WiFi yang bertebaran di stasiun (atau kalau perlu banget ya tethering, modal dikit cyint!)  untuk kemudian digarap secara offline.

Dengan biaya hanya seratus ribu rupiah per bulan rasanya nggak mungkin deh kalian nggak sanggup beli aplikasi yang lisensinya bisa digunakan untuk lima devices.  Kalau masih kemahalan, ada Office365 Personal seharga lima puluh ribuan saja per bulan yang bisa digunakan untuk dua devices: PC/netbook/notebook dan tablet.  Kalau mau coba-coba dulu alias free trial bisa ke sini ya. Hati-hati ketagihan 8D. 

Tips buat yang mau kerja pake Office for iPad: pastikan baterai iPad terisi penuh, tapi jangan gunakan device ketika CommuterLine dalam kepadatan tertinggi ya. Mendingan melipir dulu ke peron atau kantin sambil nyeruput kopi deh biar lebih leluasa.

Senam Di CommuterLine

Berdiri terus-menerus di CommuterLine memang bikin pegel sih. Wajar kalau kursi di kereta dingin ini jadi rebutan. Padahal kalau kamu tau manfaat di balik berlama-lama berdiri, ada 70 kalori yang terbakar untuk durasi setidaknya 30 menit (yang nanya kenapa saya gak gemuk-gemuk walaupun makan banyak, bisa jadi ini adalah salah satu rahasianya).

Anyway, pengiklan di CommuterLine kayaknya tau banget keluhan kaki dan tangan yang mulai kaku-kaku karena kelamaan berdiri. Kamis malam lalu, saya menemukan "petunjuk" senam ringan di CommuterLine yang rupanya merupakan bagian dari iklan neurobion, brand yang menangani masalah saraf dan otot dengan kadar asam laktat berlebih itu. Senamnya gampang banget sih...


Tentu saja tips stretching ini agak sulit diterapkan kalau kepadatan 5-8 orang per meter persegi pijakan ya 8D 

PS: postingan ini bukan iklan sponsor lho, gambar dari Redy @deesign seperjalanan menuju Bogor 

Kursi Prioritas

Dari pagi tadi, timeline saya ramai oleh skrinsyut curhatan seorang perempuan pengguna CommuterLine yang misuh-misuh karena kenyamanannya duduk "dirampas" oleh seorang ibu hamil. Saya nggak tau apakah si mbak cantik yang identitas namanya ini diblur akhirnya memberikan kursi pada si bumil atau nggak. Yang pasti, butuh kesabaran berganda dan istigfar berkali-kali untuk menyelesaikan pisuhan yang kemudian ramai beredar di berbagai media sosial itu. Hebatnya lagi, pisuhan si mbak cantik diamini temannya dalam lingkaran path. 

Bukan cuma sekali dua saya mendengar (dan membaca) keluhan orang tentang ganasnya penumpang CommuterLine pada yang berhak atas kursi prioritas. Gak cuma terjadi di gerwani (gerbong wanita), melainkan juga gerbong ikhtilat alias gerbong campuran seperti disampaikan dalam sebuah laporan di detikcom ini.  Saya sendiri juga pernah sih melihat sendiri seorang cowok berbadan sehat nan kekar yang duduk manis di bangku prioritas demi berlekatan dengan sang pacar, sementara di depannya persis berdiri ibu hamil yang karena jenis pakaiannya longgar (jilbab dan jubah lebar) nggak menampakkan kehamilannya. Saya baru tau dia hamil setelah mengamati (dan curiga) lingkar perutnya yang menyembul. Syukurlah si cowok sehat yang duduk tadi akhirnya mau ngasih kursi.

Pengalaman berjibaku di CommuterLine, sepertinya empati paling sedikit dimiliki mereka yang dari segi usia tegolong remaja (dan mustinya masih pada bugar). Seperti mbak yang curhat di path itu, tadi pagi saya mendapati seorang mahasiswi cantik bertubuh bugar yang buru-buru menutup mata ketika seorang ibu dan anak naik. Biar lebih meyakinkan, si mahasiswi ini juga melengkapinya dengan batuk-batuk keras. Duh dek semoga dirimu bukan pengidap TB atau osteoporosis yang gak memungkinkan untuk berdiri lama ya.  

Ada juga yang terang-terangan menyuruh ibu hamil atau bawa balita untuk bergeser ke kursi prioritas (yang letaknya di ujung, dekat sambungan antar gerbong) karena ogah kenyamanannya terganggu.  Kalau sudah begini, rasanya pengen banget signage Kursi Prioritas" ditebarkan di seluruh penjuru gerbong deh.

Kalau dikalkulasi, sebetulnya durasi terlama berdiri di CommuterLine nggak akan melebihi lamanya konser musik kok. Lalu kenapa sebagian penumpang CommuterLine seperti ogah berbagi kursi ya? 

Gambar diambil dari blog ini




Dua Ibu, Dua Bayi, Dua Cerita

Tadi pagi, saya bersisian dengan seorang ibu yang sedang hamil dan menggendong bayi. Ibu itu, berdaster lusuh dengan warna pink dan motif jerapah. Penampilannya kumal, dan bau tidak enak yang sampai enam jam sesudahnya masih melekat di lobus olvactorius saya. Saya rasa 90% orang yang bertemu ibu ini akan yakin bahwa profesinya adalah pengemis yang beroperasi di sebuah kawasan di Jakarta. Tampilan ibu yang khas ini membuat saya ingat kalau saya pernah ketemu dengannya beberapa bulan lalu dalam keadaan hamil, gendong bayi, dan bawa anak balita >,<  

Ibu berdaster pink itu mengaku hamil anak kedelapan (lebih banyak dari anak kandung yang dilahirkan oleh ibu saya). Bolehkah saya curiga bayi dalam dekapannya bukan anak kandung si ibu daster pink itu? Sepanjang menanti kereta (yang telat lagi karena gangguan entah apa) si bayi sungguh anteng tidur tanpa suara. Ini sebetulnya mencurigakan ya? Dari obrolan si ibu berdaster pink dengan seorang penumpang lain (seorang ibu paruh baya yang menaruh perhatian pada kondisi kehamilan pleus bayi) yang menasihati supaya mencari pekerjaan lain demi si bayi, saya amati si ibu daster pink keliatan ogah-ogahan. Mungkin mengeruk belas kasihan lebih mudah dan menghasilkan ya? Mungkin...

Sampai ketika kereta akhirnya tiba. Si ibu daster pink cuek melangkah masuk bersama penumpang lain yang berjejalan (saya sendiri menghindari dan memilih naik kereta berikutnya demi keselamatan).  Gak kebayang gimana kondisi si bayi di dalam kereta...

Sementara itu, masih di jam yang kurang lebih sama, saya juga berkali-kali berpapasan dengan seorang ibu dengan bayinya juga. Si ibu muda yang ramah ini selalu naik jurusan Jakarta Kota, katanya sih mau ke rumah sakit karena bayi dalam gendongannya tampak terlihat beda dengan ukuran kepala yang lebih besar dari ukuran normal.  Rutin terapi mungkin.  Yang pasti, berbeda dengan si ibu berdaster pink yang juga membawa bayi, ibu dengan bayi berkepala besar ini akan dengan sabar menunggu kereta bisa diselipi dirinya + si bayi dengan leluasa. Supaya si bayi juga merasa nyaman dalam gendongan. 

Dan betul saja ketika saya berkesempatan sekereta dengan mereka (ibu + bayi berkepala besar itu) saya melihat wajah si ibu yang penuh sayang memeluk dan melindungi anaknya yang tampak "tidak sempurna" itu. Beda banget deh sama ibu berdaster pink... 

Tips Menghindari Penalti

Udah pada tau kan kalau CommuterLine menerapkan sistem penalti atau suplisi?

Suplisi alias denda 50ribu (setara dengan secangkir kopi hehehe... ) diterapkan jika kamu nggak bisa menunjukkan kartu THB ataupun KMT saat tap out ke luar stasiun. Jadi, hati-hati menjaga tiket. Buat yang pake KMT mungkin bisa disiasati dengan menggunakan kalung ala ala ID card orang kantoran kayak gini:


Sementara penalti, ini biasanya di-charge kalau kamu melakukan tap out di lokasi yang sama dengan tap out dalam rentang waktu minimal satu jam. Besarnya sih cuma 7ribu, tapi lumayan lho buat saldo perjalanan Bogor-Sudirman. Atau setara dengan teh dalam kemasan yang menyegarkan di cuaca panas kayak sekarang lah ... XD

Nah, sayangnya kebijakan penalti ini juga berlaku ketika ada gangguan CommuterLine seperti tadi pagi. Kerusakan pantograf menyebabkan perjalanan jalur Jakarta-Bogor PP terganggu, bisa dipastikan ratusan (atau mungkin ribuan) penumpang yang sebagian besar pekerja urban itu terusik perjalanannya. Termasuk saya tentunya. Berpeluh, dan tentu saja ketar ketir gak karuan. Dua jam lewat, akhirnya saya memutuskan untuk pindah moda transportasi yaitu angkot yang sudah pasti bakal makan waktu tempuh lebih lama (pleus panas!). Apa boleh buat daripada tak terangkut.

Saat tap out, otomatis saya dikenakan penalti. Ih, nggak enak banget ya. Udah kita dirugikan waktu kok masih dihukum potong saldo huhuhu... Untungnya, pas ngurus penalti di loket, petugasnya bilang bisa diklaim dengan menghubungi kantor staf. Wah! Dasar ogah rugi, saya pun mengurus ke TKP. Ternyata, menurut kru CommuterLine, untuk menghindari penalti (dalam kasus khusus kayak hari ini aja ya, jangan curang hehehe) pada saat tap out mustinya minta tolong petugas polsuska yang melakukannya. 

OK, tips tadi akan saya ingat, catat, dan bagikan ke kalian lewat blog ini. Tentu saja dengan harapan, gangguan semacam ini nggak terjadi lagi ya. Biar gimana pun, rasanya tetep lebih nyaman bepergian naik CommuterLine kan?




Safety Guide Di Kereta

Waktu kejadian tabrakan KRL vs truk tangki tahun lalu (eh bener kan tahun lalu ya?), nggak sedikit yang berargumen kalau salah satu penyebab banyaknya korban adalah karena minimnya fitur penyelamat di dalam gerbong. Pintu kereta yang sulit dibuka, serta kaca jendela yang susah pecah ditengarai jadi gara-gara penumpang terjebak dalam gerbong dan akhirnya meregang nyawa atau luka. 

Nah, kemarin waktu saya naik CommuterLine ada pemandangan yang saya temukan di dalam gerbong berupa poster safety guide dengan posisi seperti yang biasa ditempati oleh advertrain (iklan dalam kereta). 

Safety guide pertama letaknya di jendela seperti ini:


Dan, ternyata safety guide yang lebih lengkap lagi juga dipajang di dalam gerbong. Sayangnya posisi berdiri saya cukup jauh dari obyek sehingga detil isi petunjuk keamanan kurang jelas terbaca:



Mudah-mudahan sih, para penumpang (terutama perempuan yang posisinya rentan di gerbong hulu dan hilir) menyempatkan untuk membaca safety guide ini dengan baik dan mengingatnya setiap kali menumpang CommuterLine.  Bukan ngedoain, cuma gak ada salahnya jaga-jaga kan?

*gambar diambil di gerbong khusus perempuan CommuterLine jurusan Bogor-Jatinegara

Kenapa KMT

Suatu malam, di stasun Pasar Minggu saya dikejutkan oleh antrian sepanjang lebih dari 10 meter di depan loket. Ada apa ini? Khawatir kejadian KRL mogok lagi. Ternyata kata mas satpam itu cuma antrian pembelian dan pengembalian THB (tiket harian berjamin yang dulunya bernama single trip). Fyuh... *lega*

Agak ribet memang, naik CommuterLine tanpa kartu langganan alias KMT (Kartu Multi Trip).  Setiap malam, pemandangan di stasiun Citayam kurang lebih kayak gini nih ...


Selain buang waktu, resiko lain bepergian tanpa KMT adalah ribetnya prosedur pengembalian jaminan sebesar 5000 rupiah itu. 

Saya sendiri, sejak rajin naik CommuterLine dan berlaku penerapan kartu berlangganan, lebih memilih yang terakhir. Dari jaman Commet yang non elektronik dan berlaku tarif flat (sekali beli bisa sepuasnya naik CommuterLine di semua jalur hehehehe) sampai sekarang sistem saldo. Buat saya, ada banyak keuntungan pake KMT.  


KMT memungkinkan saya untuk mengubah tujuan, yang tadinya berencana turun di stasiun Sudirman misalnya, bisa aja pindah pikiran ke Gondangdia tanpa perlu khawatir kena denda.  Paling-paling saldo dipotong, itu pun nggak seberapa jumlahnya. Percayalah, lebih murah ketimbang seporsi mi ayam hehehe... 

Alasan utama ber-KMT tentu aja efisiensi waktu.  Beberapa kali saya ketinggalan kereta gara-gara mustri antri beli tiket.  Kalau memang pas lagi banyak orang sih gak masalah. Yang ngeselin, pernah ketinggalan gara-gara orang di depan saya diskusi dengan petugas penjualan tiket (yang memang tabah dan sabar melayani itu!).  Pertama, bapak-bapak tua yang tanya-tanya soal beli tiket kereta luar kota. Dengan sukses saya pun ditinggal si CommuterLine tepat di saat menginjakkan kaki di peron T___T

Yang kedua lebih ngeselin lagi.  Mbak-mbak di depan saya lamaaaaa banget tanya ina ini ina itu ke petugas loket. Kayaknya harga tiket kereta ke Panarukan kalau ada juga ditanyain ya. Selidik punya selidik ternyata si mbak modus buat berlama-lama ngobrol sama petugas loket yang ternyata cowok muda nan ganteng. Oalah mbak...

#BahagiaItuSederhana

Semalam, dalam perjalanan pulang menuju Citayam yang permai dan tentram, ada pemandangan menarik yang saya temukan di gerbong perempuan CommuterLine.



Balita menangis dalam gerbong perempuan itu #wisbiyasa sih, namanya juga anak-anak yang cepat bosan dalam keadaan statis. Begitupun si balita lucu dalam gendongan nenek seperti di gambar tersebut.  Nangis terus, padahal jarum jam menunjukkan nyaris tengah malam.  Ternyata oh ternyata, si balita emoh duduk diam terus-terusan.  Seperti ibuk-ibuk lainnya yang membawa balita di kereta, hanging grip alias tiang-gelantungan adalah mainan yang menyenangkan untuk membuat si balita gembira lagi.


Dan itulah yang dilakukan si nenek, membiarkan cucunya bermain hanging grip sampai bosan untuk kemudian dilanjutkan lari-larian dalam gerbong yang lengang.

So, kalau bingung mau jalan-jalan kemana sama anak kamu kenapa nggak diajak muter Jakarta-Bogor-Tangerang-Bekasi naik commuterline? Tentunya perhatikan jam-jam keberangkatan ya, supaya bisa melenggang riang di dalamnya :) 

(Gak Perlu) Antrilah Di Loket

Inget lagu lawasnya P Project yang hasil parodi "I can't love you like that"-nya Boys II Men?
Cerita tentang perjalanan ke luar kota dengan kereta bisnis, pleus sisipan pesan supaya antri (biar tertib cyint!) untuk beli tiket dan jangan saling serobot. Yeah, emang susah sih antri ini.  Semua orang maunya duluan. 

Makanya ketika PT KAI kemudian mengeluarkan sistem baru beli tiket kereta luar kota tanpa antri, saya termasuk orang yang mendukung dengan sepenuh hati *kibar spanduk*.  Kalau dulu, saya musti nitip temen (atau opis boy) untuk beli tiket kereta.  Sekarang sih lebih praktis lagi karena PT KAI udah kerja bareng dengan sejumlah merchant dan online ticketing.

Sebagai pemalas orang sibuk, tentu saja saya memanfaatkan fitur yang terakhir. Ada banyak aplikasi dan situs online ticketing kereta yang bisa menjadi kanal pembelian tiket.  Tanda bukti pembelian tiket dikirimkan dalam bentuk SMS yang berisi kode booking. Kita tinggal datang ke stasiun untuk mencetak jadi tiket fisik. Praktis banget ya?


Step I: masukkan data ke dalam komputer: kode booking, nomer identitas dan ponsel


Step II: Tiket akan tercetak, ini yang ditunjukin ke petugas 


Sambel Terasi Di Gerbong Wanita

Percaya kan kalau naik CommuterLine nggak semengerikan yang digembar-gemborkan (sebagian) orang?

Dan bahwa gerbong wanita itu didominasi oleh mahluk keturunan Hawa dengan keganasan luar biasa nggak sepenuhnya benar. Masih banyak kok perempuan yang menunjukkan kelembutan hatinya dengan #gantianduduk seperti saya hehehe... 

Bicara soal gerbong pink, alias gerbong khusus cewek yang kontroversial itu, sebagai anak ahensi belum tsah rasanya kalau nggak mengamati iklan-iklan yang bertebaran di dalamnya.  Selain wajah Agnes Monica Agnezmo mempromosikan minyak angin, Princess Syahrini juga termasuk selebriti yang menghias gerbong ini. Cuma ya nggak terlalu spesial juga iklannya. Yang menarik justru iklan majalah Women's Health Indonesia, sekitar pertengahan tahun lalu gencar berpromosi di CommuterLine dengan tips kesehatan seperti manfaat berdiri di kereta selama 30 menit yang ternyata membakar kalori sebanyak 70 Kal. Hooo... pantesan saya gak pernah sukses gemukin badan ya?

Terkini, iklan yang catchy di mata saya adalah visualisasi berupa botol kaca kemasan sambel terasi pada hanging grip alias pegangan-buat-gelantungan.  Sebetulnya ini bukan yang pertama botol-botol produk bertebaran dalam gerbong, minuman kesehatan sudah memulainya duluan. Hanya saja membayangkan sambel terasi bergelantungan di dalam kereta bikin saya pengen menggotong tahu goreng atau lalapan, untuk kemudian dicocol dalam sambel dan dinikmati sepanjang perjalanan. Cleguk... 

Ganteng Sih, Tapi....

Menurut saya, program wajib belajar dan pemberantasan tuna aksara alias buta huruf belum sepenuhnya berhasil di Indonesia. Yang dimaksud bukan di wilayah terpencil yang jauh dari"peradaban" bernama sekolah, sebab bahkan Anak Rimba di pedalaman Jambi pun sudah melek huruf dan bisa membaca. Melainkan, di sebuah tempat bernama peron stasiun yang seharusnya bebas (asap) rokok.

Gambar yang terekam di bawah ini adalah contoh betapa mas-mas ganteng ini sepertinya butuh les membaca lagi


Yang satu ini, saya temui di stasiun Citayam ketika hujan mengguyur. Mungkin si mas butuh kehangatan tapi nggak tau musti meluk siapa. Lucunya, yang menyuruh ngerokok justru ibunya lho. Meski awalnya si mas sempat ragu untuk membakar lintingan tembakau buat mengusir dingin. 



Saya yakin, masih banyak area bebas (asap) rokok yang belum steril di stasiun sepanjang Bogor-Jakarta dan sebaliknya.  Nggak tau kenapa, susah banget ya bagi para perokok ini untuk menahan diri atau usaha dikit jalan ke area merokok yang sudah disediakan. Kalau lagi beruntung sih, siap-siap aja ditegur manis oleh mas satpam stasiun.  Syukur-syukur kalau dapat "jackpot" berupa sapaan dari mas marinir yang akan dengan santainya bilang: "Bisa baca nggak?" sambil nunjuk-nunjuk marka Dilarang Merokok yang dipajang di pagar peron.

(foto diambil di stasiun Citayam) 

Bos Galak vs Keselamatan Di Jalan

Beginilah pemandangan setiap pagi jika kamu menaiki commuterline dari selatan menuju Jakarta. 


Apa sih yang bikin para pereu ini rela "mempertaruhkan nyawa" (OK ini sedikit lebay, faktanya beberapa kali terjadi kasus penumpang pingsan karena rebutan) dalam commuterline yang belum juga bisa senyaman KRL Express? 

Dalam sebuah sesi nguping bersama, seorang pekerja wanita bilang kalau dia sudah beberapa kali kena tegur bosnya gara-gara telat ngantor. Penyebab keterlambatannya, tentu saja karena susahnya mendapatkan secuil tempat dalam gerbong di commuterline pagi.  Kemudian saya berpikir, mungkin penyebab para perempuan ini semakin gesit bertarung dan menafikan keselamatannya adalah demi menghindari omelan bos galak dan sindiran HRD melihat kolom absen. Mungkin...

Nggak banyak memang kantor yang menerapkan keleluasaan jam kedatangan. Jika kamu termasuk dalam kantor yang sedikit itu bersyukurlah. 


Ngegym Di Stasiun



Ngegym sebagai bagian dari gaya hidup warga Jakarta, udah bukan lagi hal mewah ya. Saya masih ingat obrolan dengan satpam-kece-beralis-tebal yang juga punya postur tubuh bagus di stasiun Sudirman tahun lalu.  Mas satpam ganteng nan gandengable ini punya kebiasaan mengolah tubuh di tempat kebugaran di Jakarta Pusat. Waaaaa saya kira dia cuma hobi sit up, push up dan segala jenis yang berakhiran up pas apel pagi sebelum tugas mengawal kami para penumpang commuterline ini hihihi...

Tak usahlah dihitung-hitung berapa anggaran ngegym si mas satpam-kece-beralis-tebel itu.  Yang pasti, akhir Januari lalu ketika saya transit di sebuah warung makan soto sekitar stasiun Pasar Senen ada pemandangan menarik berupa arena olah tubuh di tempat terbuka, hanya berjarak beberapa puluh kali jalan kaki dari pintu stasiun. Peralatannya cukup memadai, dan semuanya tentu saja tanpa sumber energi elektrik (ya iyalaaah outdoor!).  Belum diketahui apakah fasilitas ini disediakan cuma-cuma atau perlu keanggotaan. Mungkin nanti saat saya transit lagi di sana bakal saya cari tau ya. Dengan catatan kalau selo ^___^ 


Fashionable Commuter Users



Se-fashionable apa sih kamu dalam bepergian menggunakan commuterline?
Makin banyaknya pengguna CL yang tampil stylish dan hobi selfie diakomodir oleh CommuterLine lewat ajang lomba foto fashionable yang diadakan di akun @CommuterAd berkolaborasi dengan Indonesia Fashion Week. Nggak tanggung-tanggung, hadiahnya smartphone dan kesempatan buat tampil di ajang IFW dalam bentuk photo exhibition. Syaratnya gampang banget, cukup twitpic foto di stasiun, atau di depan commuterline dengan gaya yang stylish dan mention akun @CommuterAd. 


Next time, mungkin panitia IFW (atau Jakarta Fashion Week?) gantian jadi fashion police "berburu" pengguna commuterline yang fashionable buat dikasih tiket masuk atau merchandise misalnya?

(foto diambil di advertrain dalam gerbong perempuan)

Pembuka

Sebagai komuter yang setiap hari menjadi pengguna setia commuterline, selalu ada hal seru buat dibagi. Mulai penumpang gerbong perempuan yang (katanya) ganas, kereta yang selalu telat.. dll dll...

Daripada cuma di-shared di path yang terbatas cuma 150 orang itu (padahal jumlah shares di path gak sampe 150 jugak!) mending disebar di sini aja ya... buat bacaan iseng kalo lagi nunggu commuterline.

Kalau punya cerita tentang kereta, boleh juga share ke saya kok
Bisa post di kolom comment atau mention di twitter @nagacentil dengan tagar #ceritadikereta 

Enjoy!