Ajari Anakmu Berbagi (Kursi)

Dua ribu empat belas udah mo abis dan blog ini belum update? Ckckck...

Saya mau cerita dikit tentang sebuah pelajaran manis dari seorang ibu yang pernah saya beri kursi di gerwani (gerbong khusus wanita, jangan salah sangka dulu deh plis ah!). Si ibu muda memboyong dua anaknya, satu balita banget dan satu lagi cowok dengan taksiran usia sekolah dasar. Itung sendiri deh berapa, saya nggak sempat tanya apalagi minta fotokopi akte kelahirannya.

Syahdan, setelah mendapatkan kursi lungsuran dari saya nggak lama kemudian sebelah si ibu kosong. Dengan mata berbinar si ibu menawarkan kursi tersebut buat saya. Tadinya sih saya mau memberikan kursi itu buat anak cowoknya yang masih usia SD itu, tapi si ibu menolak. Katanya lugas, "biar aja dia kan lelaki harus kuat dan belajar menghargai orang lain".

Maka sepanjang perjalanan si lelaki kecil pun berdiri.

Saya kemudian teringat pemandangan lumrah yang memancing pertanyaan: berapa usia maksimum "anak lelaki" yang boleh ikut ibunya di gerwani? Nggak sedikit bocah-bocah bongsor dengan ukuran tubuh lebih besar dari saya (ya ini sih sayanya aja yang kelewatan ceking!) menikmati kursi di ruang yang dikhususkan buat kaum Hawa itu sambil bergelendot manja di samping sang bunda. Padahal, saya yakin bocah-bocah bongsor itu masih kuat berdiri tegak sampai pemberhentian terakhir di ujung. 

Atau mungkiin cara para bunda memanjakan anaknya ini yang bikin banyak anak muda jadi nggak empati untuk gantian duduk? 

Entahlah...