Sambel Terasi Di Gerbong Wanita

Percaya kan kalau naik CommuterLine nggak semengerikan yang digembar-gemborkan (sebagian) orang?

Dan bahwa gerbong wanita itu didominasi oleh mahluk keturunan Hawa dengan keganasan luar biasa nggak sepenuhnya benar. Masih banyak kok perempuan yang menunjukkan kelembutan hatinya dengan #gantianduduk seperti saya hehehe... 

Bicara soal gerbong pink, alias gerbong khusus cewek yang kontroversial itu, sebagai anak ahensi belum tsah rasanya kalau nggak mengamati iklan-iklan yang bertebaran di dalamnya.  Selain wajah Agnes Monica Agnezmo mempromosikan minyak angin, Princess Syahrini juga termasuk selebriti yang menghias gerbong ini. Cuma ya nggak terlalu spesial juga iklannya. Yang menarik justru iklan majalah Women's Health Indonesia, sekitar pertengahan tahun lalu gencar berpromosi di CommuterLine dengan tips kesehatan seperti manfaat berdiri di kereta selama 30 menit yang ternyata membakar kalori sebanyak 70 Kal. Hooo... pantesan saya gak pernah sukses gemukin badan ya?

Terkini, iklan yang catchy di mata saya adalah visualisasi berupa botol kaca kemasan sambel terasi pada hanging grip alias pegangan-buat-gelantungan.  Sebetulnya ini bukan yang pertama botol-botol produk bertebaran dalam gerbong, minuman kesehatan sudah memulainya duluan. Hanya saja membayangkan sambel terasi bergelantungan di dalam kereta bikin saya pengen menggotong tahu goreng atau lalapan, untuk kemudian dicocol dalam sambel dan dinikmati sepanjang perjalanan. Cleguk... 

Ganteng Sih, Tapi....

Menurut saya, program wajib belajar dan pemberantasan tuna aksara alias buta huruf belum sepenuhnya berhasil di Indonesia. Yang dimaksud bukan di wilayah terpencil yang jauh dari"peradaban" bernama sekolah, sebab bahkan Anak Rimba di pedalaman Jambi pun sudah melek huruf dan bisa membaca. Melainkan, di sebuah tempat bernama peron stasiun yang seharusnya bebas (asap) rokok.

Gambar yang terekam di bawah ini adalah contoh betapa mas-mas ganteng ini sepertinya butuh les membaca lagi


Yang satu ini, saya temui di stasiun Citayam ketika hujan mengguyur. Mungkin si mas butuh kehangatan tapi nggak tau musti meluk siapa. Lucunya, yang menyuruh ngerokok justru ibunya lho. Meski awalnya si mas sempat ragu untuk membakar lintingan tembakau buat mengusir dingin. 



Saya yakin, masih banyak area bebas (asap) rokok yang belum steril di stasiun sepanjang Bogor-Jakarta dan sebaliknya.  Nggak tau kenapa, susah banget ya bagi para perokok ini untuk menahan diri atau usaha dikit jalan ke area merokok yang sudah disediakan. Kalau lagi beruntung sih, siap-siap aja ditegur manis oleh mas satpam stasiun.  Syukur-syukur kalau dapat "jackpot" berupa sapaan dari mas marinir yang akan dengan santainya bilang: "Bisa baca nggak?" sambil nunjuk-nunjuk marka Dilarang Merokok yang dipajang di pagar peron.

(foto diambil di stasiun Citayam)